Saat Tunas Bangsa Melangkah Sendiri

Oleh: Muhammad Ichsan

Indonesia merupakan Negara yang penuh dengan kekayaan, baik itu kekayaan alamnya mau pun sumberdaya manusia yang ada di dalamnya. Komoditi pertambangan, mineral, bahan galian, pertanian, perkebunan, pariwisata, dan hampir di seluruh aspek kehidupan Indonesia memiliki kekayaan yang sangat berpotensi. Namun sayangnya, bukan saatnya lagi kita sibuk membicarakan apa yang kita miliki, bukan saatnya lagi kita berbangga dengan kekayaan alam dan sumber daya yang kita punya, semua kekayaan negeri ini sudah menjadi suatu rahasia umum dunia. Hal terpenting yang saat ini perlu menjadi pemikiran kita dan merupakan PR kita bersama yaitu tentang pemanfaat sumber daya itu sendiri dengan seoptimal mungkin, tentang ‘bagaimana kekayaan dan sumberdaya itu dapat dimanfaatkan dari negeri ini, oleh anak negeri, dan semata-mata untuk kemakmuran negeri ini, Indonesia.’

Sebagai Negara yang sedang gencar-gencarnya untuk maju, Indonesia sangat memerlukan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan melanjutkan tongkat estafet pembangunan. Untuk menciptakan suatu kemajuan yang berkelanjutan tentunya tidak akan bisa dilaksanakan oleh satu generasi saja, namun harus ada sistem kaderisasi dan perisiapan yang matang serta terkoordinasi di dalam mempersiapakan generasi penerus pembangunan negeri ini, supaya kemajuan yang telah diraih dapat terus ditingkatkan, atau pun setidaknya dapat untuk dipertahankan, bukan malah menjadi suatu kemunduran. Dalam hal ini, yang menjadi obyek dan target yang paling berpotensi dalam menlanjutkan tongkat estafet pembangunan itu, tidak lain dan tidak bukan adalah para generasi muda, anak-anak hingga para remaja Indonesia.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor 4 di dunia setelah RRC, India, dan Amerika Serikat  sudah selayaknya kita menaruh perhatian besar di dalam pemberdayaan yang optimal terhadap sumberdaya manusia yang ada. Letak geografis negeri ini yang diapit oleh dua benua Asia dan Australia, seharusnya mampu menjadikan negeri ini sebagai negara yang maju dalam perekonomian. Kemajuan di bidang ekonomi ini tentunya dapat berpengaruh positif terhadap rakyak Indonesia, jika saja pemberdayaan sumberdaya manusia Indonesia itu sendiri dioptimalkan, bukan dengan menambah banyak tenaga kerja asing, dan meng-asingkan penduduk negeri sendiri dengan dijadikan TKI atau TKW ke negeri orang. Jika pemberdayaan tenaga dalam negeri itu dioptimalkan, tentunya jumlah sumberdaya manusia yang terlantar akibat tidak adanya pekerjaan dapat dihindari. Namun sayangnya hingga hari ini masih banyak saja penduduk indonesia yang harus meringkuk kedinginan di bawah kolong jembatan, yang harus tidur beralaskan koran di emperan pertokoan, dan yang paling jelas dan nyata situasi perekonomian yang seperti ini berimbas terhadap semakin banyaknya penduduk yang tidak mampu, dan  meningkat pula jumlah anak-anak yang putus sekolah, hingga pada akhirnya akan semakin banyak pula anak jalanan yang harus mengais rezeki di tengah hiruk pikuk kota, di tengah kepul asap persimpangan jalan. Jika semakin banyak anak-anak yang harus putus sekolah tentunya hal itu sangat tidak baik di dalam paras dan keadaan negeri ini di masa depan.

Hari ini di Indonesia, negara yang dikenal sebagai negara yang kaya, namun menjadi sebuah ironi saat melihat kondisi anak-anak nya yang harus berjuang begitu berat demi untuk memperoleh pendidikan. Para anak di pelosok negeri ini, harus berjalan puluhan kilometer, melewati jembatan yang kondisinya hampir putus, melangkah dari desa demi desa, menyeberangi sungai, bertaruh nyawa, demi sebuah kata ‘pendidikan’. Itu baru untuk mendapatkan sebuah pendidikan, hanya sebuah pendidikan, terlepas dari keadaan layak-atau tidaknya pendidikan tersebut. Belum lagi dengan kondisi tenaga pengajar yang seadannya, belum lagi dengan medan perjalanan yang harus ditempuh, belum lagi dengan situasi dan kondisi infrastruktur pendidikan yang jauh dari layak, ditambah lagi gedung sekolah mereka yang berlantai tanah beratapakan langit, tiang-tiangnya yang rapuh dan hampir rubuh, kegiatan belajar mengajar yang harus berhenti saat hujan turun, dan berbagai ancaman yang harus mereka hadapi demi pendidikan. Begitu mahalnya sebuah pendidikan itu. Hal ini tentunya sangat kontras dengan kehidupan dan fasilitas pendidikan pada anak-anak di kota-kota besar. Buku yang serba ada, tenaga pengajar yang pendidikan S1, S2, bahkan S3, fasilitas sekolah yang layak dan semua yang dapat diakses dengan mudah. Padahal sangat jelas tercantum di dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia th. 1945 Pasal 31 ayat 1 bahwa “ Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.” Tentunya pendidikan yang diharapkan disini bukanlah pendidikan yang asal-asalan, tetap adalah pendidikan yang layak. Namun kondisi saat ini masih bagaikan bumi dan langit. Amanat UUD 1945 masih sangat jauh dari kata terlaksana.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, pada tahun 2012 saja Persentase penduduk buta huruf menurut kriteria umur kurang dari 15 th mencapai 6,75 % dari total seluruh penduduk Indonesia yang pada saat ini yang mencapai lebih kurang 250 juta jiwa. (Badan Pusat Statistik, www.bps.go.id, diakses pada 25 Februari 2014). Itu artinya masih ada sekitar 16,875 juta jiwa penduduk Indonesia masih dalam keadaan buta huruf. Hal ini memerlihatkan masih sangat perlunya peningkatan dan pengembangan ekonomi supaya seluruh kalangan masyarakat dapat memperoleh pendidikan yang layak, sehingga angka buta huruf itu pun dapat semakin kita minimalisir. Jumlah sumber daya manusia yang begitu besar akan menjadi sebuah petaka jika tidak diimbangi oleh kualitas dan kemampuan yang memadai.

Kondisi anak-anak di Indonesia saat ini memang masih sangat jauh dari sejahtera. Pada tahun 2006 terdapat 78,96 juta anak di bawah usia 18 tahun, 35,5% dari total seluruh penduduk Indonesia. Sebanyak 40% atau 33,16 juta diantaranya tinggal di perkotaan dan 45,8 juta sisanya tinggal di perdesaan. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga miskin dan tertinggal, yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberdayakan dirinya, sehingga rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, ketimpangan gender, perdagangan anak dan lain-lain. Menurut laporan Depsos pada tahun 2004, sebanyak 3.308.642 anak termasuk ke dalam kategori anak terlantar. (Sumber:Austin’s Foundation). Permasalahan ini sangatlah kompleks, karena masalah ini saling terkait dengan masalah perekonomian dan taraf hidup masyarakat Indonesia. Masalah ini harus benar-benar ditelusuri dan diselesaikan dari akar-akarnyanya.

Masa anak-anak merupakan suatu masa atau fase yang selalu dialami oleh setiap manusia. Suatu masa yang sering dikatakan sebagai masa-masa tanpa beban, karena memang sejatinya para anak tidak pernah memikirkan hal apa pun dengan serius, mereka begitu polos, dan sibuk dengan hal-hal yang membuat mereka nyaman dan suka. Namun pada masa anak-anak ini pula semua informasi akan dengan mudah diserap dan ditiru oleh para anak. Anak-anak akan cenderung meniru kelakuan, perkataan, dan perbuatan apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan.  Pada masa anak-anak ini pula lah konsep-konsep dasar nilai-nilai kehidupan harus ditanamkan. Jika benar, konsep-konsep yang diajarkan pada anak, maka InsyaAllah akan cenderung baik pula akhlak dan pemikiran pada diri anak tersebut pada saat ia dewasa nantinya, dan begitu pun sebaliknya jika konsep-konsep, pendidikan, yang diajarkan pada anak adalah suatu hal yang keliru, maka ke depannya pun sikap dan kelakuan anak-anak ini pada saat ia dewasa akan cenderung pada arah yang salah pula. Maka dari itu masa anak-anak adalah masa-masa penting didalam pembentukan dan penanaman nilai-nilai dasar kehidupan pada seorang manusia

Dalam membentuk kepribadian seorang anak, lingkungan merupakan faktor utama yang membentuk pola pikir dan sudut pandang anak dalam menghadapi masalah dan keadaan dunia di sekitarnya. Lingkungan ini secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal ini adalah pihak keluarga, kedua orang tua, dan saudara kandung. Sedangkan faktor eksternal ini adalah lingkungan pertemanan, lingkungan pergaulan yang berasal dari selain lingkungan keluarga. Lingkungan internal merupakan lingkungan yang paling berpengaruh di dalam pembentukan nilai-nilai kehidupan pada seorang anak, karena guru pertama dalam kehidupan ini adalah Ibu dan keluarga. Pada lingkungan keluarga lah seorang anak akan mendapat pendidikan tentang nilai-nilai moral dari orang tua nya. Maka, tentunya dalam hal ini orang tua lah yang menjadi garda terdepan yang pertama dan utama dalam membentuk kepribadian seorang anak. Dalam hal ini orang tua benar dituntut untuk mampu memberikan contoh dan ajaran nilai-nilai moral yang dapat menjadi pegangan oleh anak. Ajaran yang wajib ditanamkan sedari dini adalah ajaran tentang agama, bukan hanya teori, tetapi adalah pengamalan daripada nilai-nilai agama itu sendiri.  Kurangnya pemahaman dan penanaman nilai-nilai relligius pada seorang anak akan mengakibatkan  kebutaan pada hati dan nurani jika kelak ia beranjak dewasa.

Lingkungan eksternal seperti lingkungan permainan, pergaulan sehari-hari juga sangat berpengaruh pada pembentukan sikap dan mental pribadi. Seperti bunyi  salah satu hadist Rasulullah SAW “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628). Maka dari itu, dalam memilih teman untuk bergaul pun sangat perlu untuk selektif.

Dalam menyikapi pengaruh yang datang dari luar, agama hadir sebagai solusi yang tidak tergantikan. Agama merupakan cahaya bagi kehidupan, yang memberikan petunjuk dan ketentraman jiwa. Ajaran agama apa pun pada dasarnya adalah mengajarkan tentang kebaikan. Pemahaman diri akan agama akan membuat seseorang akan selalu merasa diawasi oleh Sang Pencipta, jika hal ini telah mampu ditanamkan pada diri anak atau pun generasi muda Indonesia, maka masa-masa kejayaan negeri ini adalah hanya menunggu waktu saja. Memang itu semua bukan lah suatu hal yang mudah untuk kita wujudkan, perlu komitmen bersama, bukan dilakukan dengan terpaksa atau dipaksa, tapi memang dari hati. Masalahnya, bagaimana kita bisa menumbuhkan niat untuk belajar dan mengamalkan nilai-nilai agama itu dari hati? Jawabannya ada pada komitmen, awalnya memang perlu dipaksa, namun lama-kelamaan semua akan terbiasa, InsyaAllah. Semua itu dapat dilaksanakan dengan rasa kepedulian terhadap nilai-nilai religius, secara berkala, namun terus menerus. Yang dibutuhkan saat ini, bukan lah jumlah waktu untuk mendapatkan ajaran agama dalam jumlah banyak, tetapi adalah intensitas yang terus menerus, walau sedikit, tapi konsisten, karena konsistensi itu lebih berharga daripada memulai kebaikan itu sendiri.

Pemahaman terhadap ilmu agama merupakan pondasi utama dalam membentuk anak-anak yang tangguh, remaja yang kuat dan bersahaja. Semakin majunya teknologi, tentunya membawa dampak positif dan negative tersendiri. Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan kemajuan iman tentunya dapat merusak dan memudarkan iman itu sendiri, tentunya akan mengakibatkan semakin renggangnya waktu untuk mengingat Sang Pencipta. Mengingat semakin derasnya arus globalisasi pada saat ini, semua informasi yang dapat dengan begitu mudahnya diakses melalui smartphone, laptop, dan PC. Semua informasi yang diasajikan ada yang baik (positif), namun tidak sedikit pula informasi yang bersifat merusak mental dan meracuni pemikiran para generasi muda. Penyaringan terhadap informasi-informasi yang belum seharusnya diakses oleh para remaja dan anak-anak sebenarnya telah dicoba untuk dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi-aplikasi pemblokiran situs-situs dewasa, namun sepandai dan sekuat apa pun aplikasi itu diciptakan dan diterapkan, seolah selalu ada celah untuk diterobos oleh para remaja yang buta akan agama dan semakin dibutakan oleh teknologi serta semua yang ditawarkan di dunia maya.

anak jalan

Kemajuan dan derasnya arus teknologi itu adalah suatu hal yang tak dapat kita hindari, namun dampak dari kemajuan teknologi itu sejatinya dapat kita kendalikan, karena teknologi itu ibarat sebuah kulkas yang lengkap, yang di dalamnya tersedia segala macam yang kita butuhkan untuk membentuk hal yang kita inginkan, jika ingin hal yang baik, maka sejatinya kita memilih bahan-bahan yang baik, dan begitu pun sebaliknya. Sama halnya dengan teknologi, saat ini semua serba ada, semua serba mudah, jika anak ingin terus diawasi, maka itu adalah sebuah ketidakmungkinan karena tak akan selalu orang tua berada dekat dengan anak. Dalam hal ini tetap lah yang menjadi solusi adalah agama, karena dengan pemahaman yang kuat terhadap agama, maka ada atau tidak ada pun orang tua, dan kapan pun,  dan dimanapun berada, sang anak akan tetap menjaga sikap dan kelakuannya karena ia tahu bahwa ada Sang Maha Pencipta yang akan sealu mengawasinya.

Pepatah mengatakan, “Jika anda ingin melihat kondisi suatu negeri 30 tahun yang akan datang, lihat dan perhatikanlah kondisi para remaja dan anak-anaknya pada saat ini.” Dengan kata lain, kondisi remaja dan anak-anak di suatu negeri pada hari ini, merupakan cerminan dari kondisi dan keadaan yang akan terjadi pada negeri itu di masa yang akan datang. Anak-anak merupakan sebuah potensi nyata dalam suatu negara. Tidak ada kekayaan yang lebih berharga dari suatu negara yang lebih penting selain daripada ‘para generasi’ mudanya. Dan memang tak salah jika Bung Karno pernah berkata “Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka aku akan mengubah dunia,” karena memang benar, bahwa pemuda adalah pembawa harapan dan cita-cita mulia suatu bangsa. Dan apa pun dan bagaimanana pun kondisi anak-anak di Indonesia saat ini, miskin, kaya, susah dalam akses pendidikan, mudah dalam akses pembelajaran, jauh dekat, apa pun itu pada hakikatnya penanaman nilai-nilai agama dan ketuhanan merupakan dasar utama dari semua opsi solusi yang ada, yang akan selalu relevan sampai akhir zaman. Dengan dibantu oleh peran orang tua dan keluarga penanaman terhadap nilai-nilai agama ini perlu dilaksanakan secara berkala dan dengan dilakukan dengan konsisten, dengan cara yang baik pula tentunya. Karena bagaimana pun, masa anak-anak adalah masanya untuk bermain, namun bukan masa yang dilepas sepenuhnya untuk dinikmati oleh anak, karena pada masa anak-anak itu pula penanaman nilai-nailai moral dan kehiduapan perlu dilakukan. Maka dalam hal ini, orang tua menjadi tokoh yang berada pada barisan terdepan dalam pembentukan akhlak anak.   Harapannya kita dapat menjaga para anak, membentuknya menjadi insan dan generasi yang paripurna, sadar akan tugas dan kewajibannya serta yang terpenting adalah tahu akan fungsinya sebagai makhluk dari Sang Pencipta. Tidak dapat dipungkiri bahwa para anak merupakan tunas bangsa yang diharapkan mampu menjadi penyambung tongkat pembangunan negeri ini, dan untuk menciptakan pembangunan infrastruktur yang mapan, maka kita perlu membangun infrastruktur dari dalam pribadi individu anak itu sendiri, yaitu pikiran dan hati. Semua itu hanya dapat diwujudkan dengan niatan yang penuh dengan konsistensi, bertahap, dan terncana.  Kita memang dalam keadaan yang pesat dan gencarnya untuk lebih berkembang menuju negara maju, namun Indonesia saat ini, tidak butuh lagi orang-orang yang hanya pintar secara teoritis dan keilmuan, tapi Indonesia butuh manusia yang berkarakter dan beragama, setalh itu barulah nilai keilmuan menjadi alat untuk menggerakkan dan memajukan agama.  Dan saat tunas bangsa melangkah sendiri, tiada yang lebih penting dan berharga daripada keimanan terhadap Illahi Rabbi.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s