Proses Pembentukan Bahan Galian Melalui Proses Pelapukan

 

Proses pelapukan yang meskipun berjalan lambat tetapi terus-mnerus dalam kangka waktu lama, sehingga pada akhirnya batuan dan mineral-mineral yang dikandungnya akan mengalami disintegrasi sebagai akibat pelapukan fisik dan dekomposisi sebagai akaibat pelapukan kimiawi. Pelapukan fisika dan kimiawi teridiri dari bermacam-macam proses yang dapat bekerja sendiri-sendiri ataupun bersama-sama. Pelapukan kimiawi banyak terjadi di daerah yang beriklim basah dan panas seperti di Indonesia ini, sedang pelapukan fisik lebih menonjol di daerah beriklim kering.

  Hasil pelapukan dapat dibedakan aas tiga jenis atau kelompok,yaitu :

  1. Bahan-bahan yang dilarutkan ddan diangkut sebagai larutan.

 2. Bahan-bahan yang diangkut buka sebgai larutan, tetapi sebagai bahan padat, yaitu sebagai beban melayang (“suspensi”) dan sebagai beban dasar (“bed-load”).

3. Bahan-bahan yang tertinggal.

Diantara ketiga jenis bahan sebagai hasil proses pelapukan tersebut diatas, maka bahan jenis no.1 kalau meruapakn bahan berharga konsentrasinya akan merupakan deposit evaporit (penguapan) yang telah diterangkan didepan. Sedang konsentrasi bahan galian jenis no.2 akan merupakan ddeposit karena proses sedimentasi seperti yang juga telah diiuraikan di depan.

 Sedang bahan-bahan yang tertinggal dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu :

1. Yang berupa tanah (“soil”) biasa, tanpa kandungan mineral-mineral berharga.

2. yang berupa residu, tediri dari mineral berharga dalam jumlah yang dapat diusahakan.

3. Residu yang berupa mineral berat dan mineral ringan yang tidak dapat larut karena siffatnya yang stabil di mana hanya mineral yang berat yang berharga, sedang yang ringan tidak berharga. Keduanya dapat dipisahkan dengan cara dialiri air atau udara.

4. Bahan yang dapat larut oleh air yang merasap ke dalam tanah dan diendapkan ditempat yang dangkal dibawahnya untuk membentuk deposit mineral berharga.

 Kelompok mana yang akan terbentuk tergnatung dari hal-hal di bawah ini:

 1. Keadaan alami batuan aslinya.

2. Keadaan Topografi.

3. Keadaan iklim.

 Dari ke empat kelompok di atas, kelompok ke dua akan membentuk deposit konsentrasi rsidual,kelompok ke tiga membentuk deposit konsentrasi mekanis atau deposit “placer”, dan kelompok ke emapat akan membnetuk deposit pengkayaan sekunder (“secondary enrichment deposiit”)

 

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s