Kemapalaan

Soe Hok Gie kembali hadir di tengah kita. Kita boleh berbangga, sebab nama dan riwayat seorang pejuang yang tulus, masih mendapat tempat terhormat di tengah masyarakat kita yang kian haus pasar. Gie memang pantas menjadi idola kaum muda yang disanjung, diingat, dan (kadang-kadang) disimpangkan. Dari disanjung oleh sejumlah intelektual yang takut turun ke jalan, diingat oleh para mahasiswa (yang masih) melihat demonstrasi sebagai wujud perjuangan strategis, sampai keberaniannya dan ketulusannya yang kerap disimpangkan, hingga Gie sendiri sering merasa terperangkap dalam lorong kesunyian.

Tapi apa kiranya kini yang tiba-tiba menarik perhatian masyarakat luas untuk kembali membicarakan Gie, selain bahwa sebagian kecil kisah perjalanan hidup Gie tahun ini tengah ditayangkan dalam bentuk film dan bukunya berjudul Catatan Seorang Demonstran diterbitkan ulang? Adakah Soe Hok Gie hanya sekadar potret menjenuhkan bagi para antipode-nya? Apakah Gie sekadar aktor dalam satu epik kemahasiswaan yang menjelajahi spektrum politik nasional dengan segenap idealisme kaum papa?

Mencatat sejarah sendiri

Gie adalah jenius muda yang cita-cita, ide, serta pemikirannya selalu menukik pada usaha merealisasikan kemanusiaan dan keadilan sosial di tengah tabiat kekuasaan yang cenderung korup dan mengisap. Ia tidak hanya dikenal lantang di tengah hiruk-pikuk gerakan demonstrasi mahasiswa, namun juga orang yang mampu membetot perasaan publik lewat tulisan-tulisan yang ia tulis di kamar belakang rumahnya yang sunyi.

Hampir 14 tahun sejak kematian Gie, terbitlah satu buku Gie yang menyulut kontroversi publik: Catatan Seorang Demonstran. Buku itu terbit tak lama setelah kemunculan buku renungan Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian. Orang-orang seperti Salim Said, Harsja W Bachtiar, dan Hidayat Sutarnadi langsung saja memosisikan buku CSD itu sebagai bukan buku sejarah, apalagi buku sejarah yang utuh. Bahkan Harsja menulis Soe Hok Gie bukan ahli sejarah yang baik, meski dengan susah payah Gie merebut gelar sarjana sejarah dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Saya sependapat dengan orang-orang di atas, sejauh sejarah masih dipahami sebagai satu kesatuan, suatu totalitas, atau suatu koherensi, apalagi suatu kronologi. Tapi saya kebetulan bukan orang yang senang memandang sejarah seperti itu, sehingga CSD, di mata saya, bisa saja adalah buku sejarah yang (kebetulan atau disengaja) ditulis dengan pola penulisan alternatif, yang bergerak pada upaya penulisan peristiwa sosial agar menjadi sebuah peristiwa dramatik. Karena itu CSD tidak ditulis agar menjadi objektif, kaku, dan linear, namun ditulis berdasarkan kepentingan bagaimana catatan harian itu bisa dinikmati penulisnya sendiri, dan bisa melahirkan drama baru setelah peristiwa lalu telah usai.

Sadar atau tidak sadar, menurut saya, mobilitas Gie yang tinggi serta kejujuran dan keberanian Gie yang tanpa kompromi merupakan bentuk konsekuensi yang adanya terbantukan oleh catatan hariannya sendiri. Sebagai aktor utama dalam catatannya, ia berusaha memasuki peristiwa-peristiwa yang lebih hebat dan kalau perlu lebih dramatis, agar kualitas catatan hariannya terus berkembang dinamis. Gie pun terpacu untuk menuliskannya secara spontan dan jujur, karena dengan penuh kesadaran ia tahu bahwa yang ditulis adalah catatan harian semata, sebagai bahan evaluasi diri, upaya melatih disiplin pribadi, tidak untuk dipublikasikan.

Dengan demikian, yang terjadi di hadapan kita adalah bahwa Gie telah melahirkan catatan hariannya dan catatan harian itu kemudian melahirkan Gie. Memahami catatan harian Gie lewat perspektif ini, CSD menjadi menarik untuk kita baca, sebab sesungguhnya buku tersebut lebih jauh telah menantang kita untuk turut menulis dan menulis. Menulis apa saja asal dengan kejujuran. Benar salah bukan persoalan di sini. Dan, kejujuran di sini, bukan berkah yang taken for granted, namun sesuatu yang diraih melalui latihan dalam keseharian. Menulis dalam catatan harian.

Dari kejujuran menulis, apalagi dalam catatan harian, praksis hidup penulis tersebut akan mengarah pada usaha mengoreksi perjalanan dan perjuangannya sendiri. Jadilah ia mencatat sejarahnya sendiri, bangsanya sendiri, lewat versi sendiri. Dalam hal ini, Gie pantas kita sebut guru bangsa, sebab bukankah sampai kini Indonesia masih dikuasai penilaian sejarahnya oleh bangsa asing? Syukur-syukur penilaian itu benar, kalau ngaco?

Merambah dunia sastra

Sejarah yang ditulis Gie memang tidak kaku. Ciri tulisan Gie adalah bahwa tulisannya selalu saja memikat pikiran dan perasaan pembacanya sekaligus. Dari buku Catatan Seorang Demonstran, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan sampai Lentera Merah, Gie tak pernah membuat jenuh pembaca. Selalu saja ia mengundang rasa penasaran, di samping membuat pembacanya seakan bagian dari orang yang sedang dibicarakan Gie. Begitulah Gie, tema apa pun yang ditulis, ia menulisnya dengan bahasa sastra dan semangat sastra. Ia telah ikut merambah dunia sastra.

Dalam pandangan saya, bahasa sastra adalah bahasa yang tidak sekadar indah-mendayu, namun penuh metafora, penuh unsur subjektivitas tapi terbuka bagi ruang impersonalisasi, hingga karenanya bahasa sastra perlu melewati lorong-lorong penghayatan yang personal. Sedangkan semangat sastra adalah semangat yang bergulat, merenung, menikmati, menancapkan visi, hingga karenanya dorongan semangat sastra menjanjikan petualangan melompati sekat-sekat normatif yang berkuasa di tengah kehidupan manusia umumnya.

Gie berhasil menggabungkan bahasa dan semangat sastra itu dalam esai-esai dan juga puisinya, sehingga tulisannya, di zamannya (bahkan hingga kini), begitu hebatnya menabur butir pencerahan. Kesaksian Arief Budiman sebagai kakak kandung yang ikut menjemput mayat Gie dari Gunung Semeru menggugah hati kita tentang arti sebuah tulisan, tentang karya, tentang ketaksia-siaan. Arief bilang tulisan Gie bahkan dibaca dan digemari oleh tukang peti matinya sendiri yang berada jauh di Malang dan juga oleh pilot pesawat terbang AURI yang mengantar mayat Gie sendiri. Sungguh tak terbayangkan bagaimana Gie telah mampu menulis sejarah dan peristiwa sejarah dengan bahasa sastra, yang semangatnya mencair sampai ke tingkat rakyat yang jauh dari jangkauannya. Kepada orang yang tak dikenal Gie sendiri!

Itulah beda tulisan yang ditulis dengan perasaan dan tulisan sekadar. Mungkin tukang peti mati di Malang itu tak cukup tahu isi tulisan Gie, tapi ia bisa menangkap bahasa perasaan sang penulis. Dunia pembaca dan penulis kemudian seperti berkomunikasi, bercerita tentang cita-cita dan entah.

Kecintaan Gie pada dunia sastra memang telah terpupuk sejak dini. Barangkali darah menulis ini dimiliki Gie dari bapaknya, Soe Lie Piet, yang tak lain adalah seorang wartawan dan redaktur pelbagai surat kabar. Soe Lie Piet, yang karena alasan proses asimilasi sosial mengganti namanya menjadi Salam Sutrawan, dikenal juga sebagai sastrawan produktif, yang karyanya antara lain: Bidadari Dari Telaga Toba (1928), Ular Yang Tjantik (1929), Djadi Pendita (1934), Lejak (1935), Di mana Adanya Allah? (1940), dan Gadis Kolot (1941). Sampai di sini tak heran, bila Gie sejak di bangku SMP sudah gemar membaca buku sastra mulai dari Amir Hamzah dan Chairil Anwar, sampai ke Andre Gide, Bernard Shaw, dan George Orwell.

Dalam catatan masa SMP-nya, 8 Februari 1958, bisa kita baca pula bagaimana Gie pernah berdebat keras dengan guru sastranya, hingga ia menulis: “Memang demikian kalau dia bukan guru pandai. Tentang karangan saja dia lupa. Aku rasa dalam hal sastra aku lebih pandai. Guru model gituan. Yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” Begitu juga dalam catatan masa kuliahnya, di mana ia tampak dekat dengan para penggiat sastra dan senang mengikuti acara sastra, seperti acara Malam Puisi atau acara Peringatan Chairil Anwar (catatan 28 April 1969). Dalam acara terakhir, malah Gie sempat mengkritik orasi sastra Arief Budiman yang terlampau kering dan deklamasi puisi WS Rendra yang menurutnya tidak cukup baik.

Soal terbitan baru itu

Kini Soe Hok Gie ramai kembali dibicarakan. Tapi apa kiranya kini yang tiba-tiba menarik perhatian masyarakat luas untuk kembali membicarakan Gie, selain bahwa foto Gie di sampul depan bukunya dulu, kini diganti dengan foto Nicolas Saputra, aktor ‘ngepop-nyelebritis’ yang sama sekali tidak berhubungan dengan isi buku CSD, apalagi dengan riwayat hidup Gie yang pejuang dan merakyat?

Saya kira pantas juga bila banyak orang marah melihat foto Nicolas Saputra di sampul buku CSD dan mereka mencoba membuat aksi penyobekan sampul buku itu secara massal. Untung saja niat itu dibatalkan.

Karena itu, terbuka sekarang bagi LP3ES untuk evaluasi tentang terbitan ulang ini. Apakah LP3ES rela menjadi kerbau yang dieja begitu saja oleh Mira Lesmana dan Riri Riza cs, kelompok yang sedang haus pasar demi promosi film Gie-nya itu? Sebab selain foto Nicolas bisa membuka kemungkinan distorsi sejarah buku CSD dan Gie sendiri, LP3ES dengan kejahilannya tak mempertimbangkan lagi adakah isi buku itu bercerita sedikit pun tentang Nicolas Saputra. Kalau foto Nicolas dipajang di sampul VCD atau DVD itu sah-sah saja, karena Nicolas memang berkaitan di situ. Ingat Bung, buku CSD dan film Gie adalah dua teks yang berbeda, meski film Gie terinspirasi dari buku CSD.

Apalagi dengan latahnya LP3ES memasang logo perusahaan rokok A Mild dan Miles Films di sampul depan yang menjelaskan kalau penerbitan ulang CSD didukung subsidi dari dua perusahaan itu, sementara harga buku itu tetap saja mahal. Tidak seperti buku Komunitas-Komunitas Terbayang Benedict Anderson yang karena terbitan ulangnya mendapat subsidi dari Oxfam, harga buku pun jadi murah.

Saya kira LP3ES harus memikirkan kembali soal terbitan ulang CSD ini. Dari mengganti sampulnya yang norak sekali, sampai pada pertimbangan isi. Mungkinkah naskah-naskah asli catatan harian Gie bisa dimunculkan utuh tanpa proses penyuntingan redaksi. Kenapa harus takut melulu, sehingga sebagian nama tokoh dalam CSD harus diganti dan beberapa masa tulisan tidak disertakan. Zaman sudah berubah Bung, pembaca sudah dewasa. Kita butuh penerbitan naskah asli itu, setidaknya untuk pembelajaran bangsa ini soal kejujuran dan keberanian.

 

Memang tiadalah yang lebih puitis selain berbicara tentang kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s